Saturday, October 31, 2009

NGINTIP MAYAT DI TRUNYAN

Melihat tengkorak memang bisa menimbulkan rasa ngeri. Tapiiii bisa juga tidak. Tengkorak yang saya lihat di museum,kesannya biasa saja. Tapi kalau melihatnya di dalam gua memang bisa bikin bulu kuduk berdiri. Seperti yang pernah saya lihat di Sulawesi misalnya. Di Gua Pamona yang letaknya di tepi Danau Poso – Sulawesi Tengah. Atau di bukit-bukit yang ada di Tana Toraja di Sulawesi Selatan.

Satu lagi yang pernah saya lihat, di Desa Trunyan. Ih ini lebih serem lagi. Letaknya di bawah pohon yang rindang banget. Suara kemeresek daun yang di tiup angin juga nambah-nambahin serem. Hiiiii


Tengkorak Berantakan di Bawah Pohon Tarumenyan



Waktu itu saya masih umur 19 tahun. Di sekitar tahun 1979 an gitu. Saya rekreasi bersama orang tua dan adik-adik saya ke kawasan Kintamani di Bali. Pas berhenti di suatu ketinggian, pemandangannya indah sekali. Danau Batur. Penjual souvenir di sebelah saya cerita sedikit tentang Desa Trunyan. Waduuuh, denger cerita mayat dan tengkorak di desa terpencil itu, saya langsung tertarik. Pengen tahu, penasaran dan entah apalagi.

Saya berangkat dengan menyewa perahu tempel yang ada di tepi Danau Batur. Suasana di tahun itu, masih sepi banget. Pemandangannya bikin mata seger banget dan hawanya enak. Sejuk. Gak lebih dari 30 menit, saya sudah sampai di lokasi.
Ternyata bener lho, di tepi sebuah tebing di kawasan Desa Trunyan, saya melihat ada kurungan dari bambu yang bentuknya segitiga terletak di tanah. Nah dalam kurungan itulah ternyata memang ada sebuah mayat. Jadi satu kurungan bambu itu tergeletak satu mayat. Wisatawan mudah melihat isinya, karena jarak bambu penyangga satu dengan lainnya berkisar 15 cm an gitu. Dari celah-celah itu, siapa pun bisa melihat mayat tersebut.

Saat itu salah satu mayatnya baru berumur beberapa hari. Jadinya matanya mulai bolong. Kulitnya kering menempel ditulang. Wajahnya juga sudah tak bisa dilihat bentuknya. Trus dibeberapa tubuhnya yang busuk saya sudah mulai melihat belatung. Terkadang ada burung yang masuk kurungan dan mematuk salah satu bagian tubuh mayat dan terus terbang lagi. Trus ada juga besek di situ berisi uang, saweran dari para tamunya. Tapi anehnya, mayatnya sama sekali tidak bau.
Mayat baru beberapa hari. Diletakkan di tanah. Dipagari bambu saja.
Memang orang di desa Trunyan yang meninggal itu, secara adat cukup di letakkan di atas tanah saja. Bau yang dikeluarkan mayat, ternyata di hisap oleh bau pohon-pohon yang tinggi besar itu, pohon taru menyan namanya. Taru berarti pohon. Menyan artinya harum. Lalu nama Tarumenyan itu lah yang menjadi nama desa itu. Di kenal sebagai Desa Trunyan.

Tanah untuk meletakkan mayat memang tak seberapa besar. Terbatas. Jadi bila ada mayat yang baru, mayat terlama dikeluarkan dari kurungan dan diletakkan di tepi-tepi pohon. Makanya di bawah batang pohon yang besar-besar itu, banyak sekali tengkorak-tengkorak. Tulang-tulang.

Setelah melihat lokasi peletakkan mayat, wisatawan sudah di atur untuk harus mampir di Desa Trunyan. Sebuah desa yang dihuni oleh orang-orang Bali asli, dikenal dengan nama Baliaga. Ternyata untuk ke desa itu wisatawan harus naik perahu lagi, karena antara desa dan tempat mayat itu terhalang tebing tinggi. Hanya 300 meter saja, kurang lebih 10 menit gitu.Di desa itu, wisatawan bisa melihat sebuah pura kuno. Juga rumah-rumah Bali yang ada di desa itu.

Sebenarnya perjalanan ke Trunyan itu menyenangkan. Seenggaknya wisatawan bisa melihat sebuah tradisi yang berbeda. Cara memperlakukan mayat yang diletakkan begitu saja di bawah pohon. Tidak diberi balsem tapi tidak bau. Atau melihat Desa Trunyan dengan puranya.

Sayangnya berada di 2 kawasan itu, di tempat mayat dan di desa, sama-sama tidak nyaman bagi wisatawan. Dari dateng, sampai pulang, uang melulu yang harus dikeluarkan. Pada dasarnya sebagai wisatawan, pastilah kami telah menyiapkan dana untuk sumbangan di suatu lokasi. Itu sudah biasa dan saya pun ikhlas mengeluarkannya.
Sebenarnya di lokasi mayat sudah ada tempat saweran. Di desa juga ada kotak sumbangan. Tapi entah bagaimana, sepanjang saya jalan dan juga wisatawan lain jalan, kami diikuti terus oleh orang-orang desa itu. Nggak tua, nggak muda. Mereka merapat terus pada wisatawan sambil meminta uang. Rasanya nggak nyaman deh, kemana-mana diikuti mereka dengan suara-suara belas kasihan. Satu diberi, lainnya minta di beri juga. Makanya karena nggak tahan, jalannya jadi cepet-cepet. Soalnya uang kecil yang disiapkan sudah es o es.




Kapal ditepi Danau Batur yang membawa saya ke Desa Trunyan
Saat perahu tempel yang saya tumpangi meninggalkan desa Trunyan, saya merenung. Diantara deru perahu itu saya hanya mengucap dalam hati. Desa ini sayang banget. Trunyan adalah desa yang memiliki potensi dalam dunia wisata. Sekarang ini, wisatawan yang dateng, sekali dateng bakal kapok dateng lagi. Apalagi kalau cerita dari mulut ke mulut bakal menyebar. Desa ini bisa semakin tenggelam dalam sepi, wisatawan ogah mampir.
Desa Trunyan terletak di salah satu tebing seberang sana, di tepi Danau Batur


Mungkin perlu ada yang membantu masyarakat setempat. Seenggaknya menyadarkan mereka perlunya kenyamanan wisatawan yang datang. Meyakinkan mereka bahwa wisatawan bakalan mengeluarkan koceknya untuk desa setempat dengan cara yang menyenangkan. Dengan cara seperti ini, wisatawan pasti lebih banyak yang datang. Desa itu pun bakalan maju. *** ira

No comments:

Post a Comment

Terbayang-bayang Pulau Maratua

Terbayang - bayang Pulau Maratua

Sore hari di Pulau Maratua Dalam trip saya ke Kepulauam Derawan, maka saya singgah di beberapa pulaunya. Di antaranya  pulau Maratua,...

Main Ke Stone Garden