Kegiatan Muda Mudi Nias menyambut tamu-tamu di Museum Pusaka Nias. Photo by Go Nias Tour |
Traveling di Pulau Nias itu senang banget. Alamnya indah. Seni dan kebudayaannya juga oke punya. Salah
satu tempat yang membuat saya semakin ingin mengeksplore Pulau Nias adalah
Museum Pusaka Nias. Museum yang terletak di Kota Gunugsitoli ini benar-benar
mampu memperkaya wawasan seseorang terhadap pulau yang terletak di Propinsi
Sumatera Utara ini.
Awalnya sih saya terkesan saat saya dan teman-teman
datang. Kami ber 5 disambut dengan tari-tarian yang dilakoni oleh sejumlah
pemuda dan pemudi Nias. Lincah dan menarik sekali. Mereka berpakaian adat. Lalu kami ikut menari. He he line dance ala Nias. Setelah itu kami juga bisa memainkan alat tetabuhannya satu persatu. Mereka
memberikan info masing-masing alat
tersebut, mengajari tamunya dan mengajak para tamu untuk bermain alat musik
itu. Jadi kami bisa merasakan irama pukulan-pukulannya. Kayaknya sih mudah, tapi ternyata susah juga tuh ngikutinnya. Semua dilakukan di halaman depan Museum Pusaka Nias.
Gadis-gadis cantik Nias, siap menyerahkan sirih yang ada di dalam dompet. |
Yang menarik dalam serangkaian acara penerimaan tamu tersebut
ada acara penyambutan yang pake diberi sirih. Sama seperti di daerah-daerah
lainnya. Pas diberi buah pinangnya itu, sebagai tanda persahabatan, sirih
pemberian itu sebaiknya diterima oleh tamunya. Sebagai simbol bahwa tuan rumahnya telah menerima tamunya dengan tangan terbuka. Idealnya, para tamunya membalas, dengan memakan sirih tersebut. Meski sebagai formalitas, tapi selalu loh sirih dan
pinangnya saya gigit. Saya kunyah.
“ Bu Ira niat banget menggigitnya”, begitu
komentar Java Yafaowolo'o Gea dari Go Nias Tour yang menemani kami selama tour di Pulau Nias.
Saya sih senyum-senyum aja. Sambil menikmati hasil icip-icip dikit pinangnya. Soalnya saking sering mengikuti acara penerimaan tamu di daerah, trus mulai bisa menikmati rasanya dan kangen, Kangen dengan rasa pinang dan sirihnya yang sepet-sepet gimana
gitu. Trus ada pedas-pedasnya. Ya udah gitu aja. Hanya sampai segitu
kekuatannya. Lebih lama dari itu belum tahan.
Selesai acara di depan Museum Pusaka Nias, kami pun mulai di
ajak untuk masuk keliling museum. Waduuuh, saya nggak menyangka. Ternyata museumnya nggak hanya bagus bangunannya. Megah. Tapi isinya
juga banyak. Komplit dan informatif. Bersih. Terawat. Museum ini
terletak di kabupaten loh. Sedangkan baru-baru ini saya melihat sebuah museum
yang terletak di sebuah ibu kota propinsi yang sangat tidak terawat. Nggak
komplit. Ruangnya banyak kosongnya. Makanya saya bilang Museum Pusaka Nias ini hebat. Keren.
Penjelasan untuk para tamu. |
Kami di jelaskan bersama-sama dari obyek ke obyek.
Tapi biasakan, saya selalu ingin lebih banyak tau. Sudah dijelaskan masih
lihat obyek yang lebih detail. Masih ingin tau dari keterangannya yang tertera.
Belum lagi potret memotretnya. Hasilnya saya selalu ketinggalan.
Buat saya berada di museum dengan waktu yang mepet
tuh gak seru. Tapi apa boleh buat waktunya mepet. Tau-tau teman-teman sudah akan acara
potret-potretan bersama dengan beberapa obyek maupun para penari.
“ Eit, tunggu – tunggu. Saya ikut”, ujar saya sambil
buru-buru bergabung untuk acara foto bareng itu. Filemon Hulu, salah satu officer Museum Pusaka Nias yang sejak tadi menemani tamu sambil menjelaskan ini dan itunya museum pun sudah nampak mengatur-atur posisi para tamu dan penari untuk foto bersama. " Wooi, sabar woooi ", begitu ungkap saya pelan sambil berlari-lari kecil menuju kerumunan untuk foto keluarga.
Dan ikutlah saya foto-fotoan kesana kemari. Termasuk di lokasi yang bagus ada seperti batu-batu megalitik di tengah ruangan. Cuman lantaran peserta fotonya kebanyakan, batunya malah gak kelihatan deh. Lalu masih ada bebera[a obyek lagi. Sayangnya, saya perhatikan penari putrinya sudah tak ada. Yang ada hanya
penari pria yang menemani kami. Tapi tak apalah. Kasian penari-penari putri itu bila harus kemalaman tiba di rumah.
Foto bareng dengan Para Penari yang menyambut tamu. |
Meski singkat, saya masih
ingat sih beberapa obyek yang menarik di Museum Pusaka Nias.Tentu apa yang menarik buat saya belum tentu menarik buat yang lain. Tapi paling enggak saya bisa cerita deh. Ini dia :
Perempuan itu pasti suka perhiasan. Jadi pas dikotak kaca kumpulan perhiasan saya liatin satu-satu. Di kotak kaca Koleksi Perhiasan Bangsawan
Perempuan. Isinya macem-macam. Ada mahkota. Sisir emas. Sanggul. Anting-anting
berbentuk bunga durian. Berbagai jenis kalung. Ada juga gelang yang dibuat dari
kayu dan berlapis emas. Ternyata perhiasan-perhiasan itu gak semua terbuat dari
emas. Selain kayu yang disepuh, bisa juga gelang dari gading atau kerang. Wah, etnik banget. Saya naksir berat. Rasanya pingin memboyong pulang perhiasan tersebut ke Bandung.
Koleksi Perhiasan Bangsawan Wanita. |
Disebelahnya ada juga perhiasan untuk Bangsawan
Lelaki. Trus macam-macam rumah adat. Patung-patung leluhur, juga Arca-arca. Batu
Megalith. Wah banyak sekali.
Lagi liat-liat gitu saya juga tertarik loh dengan
kotak kaca yang berisi pedang-pedang. Namaya Pedang Tologu yang dimasa lalu dipakai oleh para bangsawan. Yang menarik pada sarung pedang itu dilengketkan ‘rago’.
Rago itu sebuah bola rotan yang dikhiasi dengan benda-benda berkekuatan magis. Benda-benda
yang dilengketkan ini dipercaya dapat mengalirkan kekuatan dan memberikan
kekebalan kepada pemiliknya. Saya sempat melihatnya pas pesta tari perang kolosal itu. Ternyata semua prajurit perang yang memakai pedang itu, pedangnya ada ragonya.
Beberapa Pedang |
Peti mayat juga ada di Museum Pusaka Nias ini. Peti mayat ini
dibuat oleh Fondregezanota Manao untuk dirinya sendiri pada tahun 1980 dari
Dusun Ndraso-Desa Bawomataluo, Nias Selatan. Peti mayat bangsawan ini terbuat
dari kayu ‘Sala/Osala”. Bentuknya seperti perahu berkepala monster (Lasara).
Untuk bangsawan perempuan tidak diberi jambang atau kumis. Sementara untuk
bangsawan laki-laki biasanya diberikan.
Dahulu, di Nias Selatan, jenazah tidak dikubur
seluruhnya, akan tetapi kepala peti mayat masih muncul di atas permukaan tanah.
Maksudnya agar mudah mengetahui bahwa di lokasi tersebut ada kuburan bangsawan.
Dewasa ini dikubur seluruhnya, kemudian di atasnya dibuat peti mayat dari
semen, sebagai tanda bahwa kuburan itu milik bangsawan.
Peti Mayat. |
Bagaimana dengan di luar gedung museum ? Ternyata di luar gedung Museum Pusaka Nias juga diatur sedemikian rapihnya. Sehingga tak ada sejengkal pun tanah kosong. Semua
diisi dengan contoh rumah-rumah Nias. Patung-patung.
Batu-batu megalith yang ada di Pulau Nias. Semua di tata rapih. Serasi. Dengan halaman berumput yang hijau.
Good, thanks for apteciate bu IRA..
ReplyDeleteSemoga bisa berkunjung lagi ke Nias.
Amiiin. Insya Allah saya akan berkunjung kesana lagi bersama teman2.
ReplyDeleteMaaSyahAllah ga bisa berkata-kata lagi deh buat ibu Ira the best banget 🤗 suka dgn ceritanya sgt mudah di pahami👏 saya aja yg masih SMA dan sudah lama sekali tinggal di Nias masih blm bisa lebih banyak mengexplor apa saja yg ada di Nias ini hihii. insyaallah dgn izin Allah smg ibu sehat terus ya smg bisa dapet berkunjung kembali ke Nias dan membuat cerita di lembaran baru.. aamiin☺️ salam kenal dari saya Mirna Nazillah Sikumbang 🤗🙏
ReplyDeleteSedikit cerita saya tidak sengaja menemukan foto ibu di Instagram dan kepoin sedikit di karenakan ada salah satu gambar yg di mana gambar tersebut adalah rumah adat Nias setelah saya teliti bio ibu ternyata ada link cerita sepertinya sangat menarik nihh jdi pengen baca" & sepertinya saya mulai tertarik untuk membaca cerita yg lain nyaa terimakasih telah berbagi Pengalaman & cerita nyaa bu 🤗👏💖
ReplyDelete