Monday, July 31, 2017

Jumog : The Lost Paradise


Sungai yang mengalir dari bawah  Air Terjun Jumog

Candi Ceto, Kebun Teh  Kemuning, Candi Sukuh dan Air Terjun Jumog. Itulah  destinasi wisata yang hari itu akan saya datangi bersama dengan teman-teman dari Bunda Ngebolang.  Seneng sih, tapi dalam sehari begitu banyak lokasi, apa ya cukup waktunya? Apa nggak terbirit-birit di satu lokasi? Tapi, ya sudahlah. Saya kan harus mengikuti  jadwal perjalanan yang sudah diberikan jauh hari sebelumnya.


Ternyata menyenangkan.  Start dari Bandara Adi Sumarno di Kota Solo,  rangkaian perjalanannya searah.  Karena lingkungannya itu-itu juga, maka sepanjang perjalanan hari itu, mata dimanjakan oleh pemandangan yang amat menyegarkan mata.  Perbukitan, lereng, jurang, perkebunan, kabut yang tebal dan tipis yang semua amat mendinginkan mata.  Belum lagi hawa yang amat menyejukkan badan.

Gemericik air ini menemani pengunjung saat jalan menuju Air Terjun Jumog

Sampai di Air Terjun Jumog, kami tiba kesorean. Jadi di sana tak ada lagi pengunjung selain kami para emak yang jumlahnya ada 11 orang. Kondisi demikian, sama sekali tak menyurutkan semangat para emak-emak untuk menjelajah. Bahkan para guide yang biasanya mau menemani tamu pun sudah tidak ada. Begitu selesai membayar karcis seharga Rp 3000,- per orang  dewasa,  kami masuk. Harga tiket tamu mancanegara Rp 10.000,- per orang.

Air Terjun Jumog ini persisnya terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah. Perjalanan ke sini mudah. Jalanan juga bagus. Bahkan kendaraan umum pun ada.

“Mas, ini kan kita sampai di sini dari Candi Ceto. Tapi seandainya dari Solo, Jumog itu letaknya di sebelah mananya?”, begitu saya menanyakan pada mas supir.

“Ini 40 km ke arah timur Solo”, jawabnya.


Bagian atas air terjun
Sampai di lokasi ini pun saya belum sempat melihat dan mencari tau air terjunnya itu seperti apa. Belum sempat membuka-buka internet. Sambil menuju ke air terjun, yang  letaknya di sebelah sebuah aliran sungai. Awalnya ada yang bersemen. Tapi lama-lama mulai dari tanah. Ada batu-batunya sedikit.

Sampai saya terhenti. Di kejauhan sana, saya melihat air terjun yang indah sekali. Tingginya kira-kira 30 meteran. Saya terkagum-kagum. Saya tidak membayangkan air terjunnya sebagus itu. Air terjun itu jatuh melebar dan airnya mengalir di sebuah sungai yang berbatu-batu dan meliuk-liuk.

            “Kereeen”,  teriak saya saking gembiranya.

            “Surprise”, saya berteriak lagi.

Bener-bener happy banget sore itu. Surprise dapet pemandangan cantik yang untuk mendapatkannya tidak sulit. Jalannya dekat, hanya 400 meteran dari tempat parkir. Tanpa turunan dan tanjakan yang berarti. Tak ada siapa-siapa di sana selain kami ber 11 orang. Menjadikan tempat yang maha luas itu bagaikan milik kami ber 11 orang.


Cantiknya Air Terjun Jumog
Saya jalan makin mendekat. Suasana makin dingin. Di lingkungan saya hanya ada pepohonan rindang di kiri dan kanan sungai. Suara aliran sungai menyertai perjalanan saya ke air terjun. Makin dekat air terjunnya. Suaranya makin menggelegar. Percikan air-air terjun mulai mengenai tubuh. Suasananya eksotik banget.

Semua sibuk dengan aktifitasnya sendiri-sendiri. Ada yang sibuk foto. Begitu banyak lokasi yang cantik untuk berfoto-foto. Mulai di bawah grojogan air, di sungai dengan batu-batunya, di jembatannya mau pun di bawah pepohonannya.


Foto-foto dulu ah!
Selain itu banyak juga yang mainan air. Termasuk saya juga masuk ke dalam air. Wah, rugi banget kalau tak bermain air di sini. Air gunung bersumber dari mata air itu selalu membuat kangen. Gak ada air sesegar air yang berasal dari mata air.

Nyes ....

Wuh. Dingin ...

Segar ...

Terasa sekali cipratan-cipratan air yang berasal dari air terjun itu.
Sampai akhirnya kami semua kembali karena hari semakin gelap. Bunyi air terjun semakin tak terdengar. Sementara bunyi aliaran sungai masih bersama kami dan ditambah dengan suara burung dan binatang malam penghuni pohon-pohon tinggi di kawasan itu. Yach ...agak serem juga sih. Sudah menjelang magrib.

Saya masih sempat membalikkan badan melihat air terjun dari kejauhan. Barulah saya menyadari bahwa air terjun ini indah. Letaknya memang tersenbunyi. Panteslah kalau air Terjun Jumog ini di sebut dengan “ The Lost Paradise “.

Eksotik 
Pastinya berada di situ bila tidak kemalaman dan masih banyak orang akan lebih bisa lama lagi. Lebih bisa menikmati suasana alamnya yang eksotik. Apa lagi di sana juga bisa kulineran. Ngopi-ngopi atau pun kulineran sate ayam dan sate kelincinya nikmat banget. Mencari yang hangat model mie rebus juga ada. Tempat untuk duduk dan istirahat juga banyak di sana.

Datang bersama keluarga juga pasti lebih menyenangkan. Selain bisa kulineran di sana ada tempat bermain anak-anak juga ada tempat-tempat untuk beristirahat. Semua di lingkungan alam yang begitu asri. Ya, mungkin ini baru perkenalan bagi saya. Suatu saat saya ingin ke sana lagi dengan waktu kedatangan yang lebih awal.


Dari perjalanan ke air terjun ini, saya dapat melihat bahwa meskipun waktu yang terbatas, teman-teman saya tak putus asa. Malah mengoptimalkan waktu yang ada. Buktinya ditengah waktu yang terbatas, kegembiraan dan keceriaan pun tetap dalam genggaman mereka. ***

No comments:

Post a Comment

Terbayang-bayang Pulau Maratua

Terbayang - bayang Pulau Maratua

Sore hari di Pulau Maratua Dalam trip saya ke Kepulauam Derawan, maka saya singgah di beberapa pulaunya. Di antaranya  pulau Maratua,...

Main Ke Stone Garden