Wednesday, March 24, 2010

CERITA DARI PULAU PENYENGAT


Inilah dermaga di Pulau Penyengat. Penuh dengan pompong yang sedang menunggu wisatawan yang jalan-jalan di pulau itu.
Saya melihat Pulau Penyengat pas berada di tepi pantai Kota Tanjung Pinang. Waktu itu saya tertarik, karena diseberang sana melihat sekumpulan rumah dan juga lampaian pohon nyiur kok ditengahnya ada atap rumah yang lancip-lancip. Warnanya beda sendiri. Kuning.

Perjalananan dari Tanjung Pinang ke Pulau Penyengat hanya 15 menit untuk jarak tempuh 1 km an gitu. Bisa naik sampan bermotor yang biasa di sebut pompong dari Pelabuhan Sri Bintan Pura. Ongkosnya waktu itu hanya Rp 2000,- saja.

Pulau Penyengat sebenarnya merupakan sebuah tempat yang amat potensial untuk wisata. Selain pemandangannya yang bagus banyak juga obyek yang bisa dilihat.

Begitu masuk, kita bisa melihat perkampungan tradisional penduduk di pulau itu. Perkampungan nelayannya. Selain itu juga terdapat peninggalan Kerajaan Melayu Riau-Lingga, makam Raja Ali Haji Pujangga Melayu Riau yang terkenal dengan Gurindamnya, makam Raja Ja’far, Balai Adat dan juga keseniannya.

Salah satunya yang sempat saya datangi adalah Masjid Raya Pulau Penyengat yang dibangun 1882. Koleksi peninggalan sejarahnya sudah berumur ratusan tahun. Tapi semua masih amat terawat di sana. *** (ira)


Suasana jalan-jalan yang ada di Pulau Penyengat. Jalannya kecil biasanya hanya untuk becak motor dan sepeda motor. Di sini tidak ada kendaraan beroda 4.

Inilah Mesjid Raya Pulau Penyengat (atas & kanan)


Bagian dalam mesjid. Lampu yang tergantung di atas disebut lampu kraun (berasal dari kata crown) dibuat dari kaca potong yang berkilat-kilat. Lampu ini biasanya dinyalakan pada hari-hari besar Islam seperti Hari Raya 'Aidil Fitri, Hari Raya Haji atau Aidil Adha, Maulud dan Miraj Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ada 2 buah Al Qur-an tulisan tangan yang tersimpan dalam mesjid Pulau Penyengat. Salah satunya yang dipajang dalam sebuah peti kaca ialah hasil goresan tangan Abdul Stambul, seorang penduduk Pulau Penyengat yang pernah dikirim oleh kerajaan Riau Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama. Sekembalinya dari belajar ia menjadi guru dan terkenal dengan khs gaya Istambul. Padatahun 1867 ia menyelesaikan Al Qur-an yang dikerjakan sambil mengajar.


Beduk di mesjid Pulau Penyengat ditempatkan tergantung di rumah sotoh sebelah darat. Bada beduk terbuat dari sejenis kayu yang keras berukuran panjang tiga meter dengan garis tengah satu meter. Setiap waktu sembahyang 5 waktu, dibunyikan dengna 5 kali pukulan.



Lemari kayu tempat menyimpan kitab-kitab pengisi sebuah perpustakaan. Ke dua daun pintunya dihiasi dengan kaligrafi warna perada.

Sumber : Booklet Mesjid Pulau Penyengat , Penerbitan Khusus, 1993.

No comments:

Post a Comment

Terbayang-bayang Pulau Maratua

Terbayang - bayang Pulau Maratua

Sore hari di Pulau Maratua Dalam trip saya ke Kepulauam Derawan, maka saya singgah di beberapa pulaunya. Di antaranya  pulau Maratua,...

Main Ke Stone Garden