Saturday, July 20, 2013

Bangunan Kuno di Pontianak

Istana Kadriah di Pontianak
Banyak obyek yang menarik untuk didatangi saat di Pontianak. Nggak cukup waktu deh kalau hanya sehari. Tapi gimana juga kalau kita hanya punya waktu sehari untuk di kota itu ?  Seperti waktu saya di Pontianak, waktunya sehari nggak ada. Padahal obyek yang ditaksir banyak sekali.

Waktu itu saya pulang dari Singkawang malam hari. Besoknya hanya ada waktu setengah hari untuk keliling kota. Belum beli oleh-olehnya. Belum wisata kulinernya. Tapi biar sedikit waktu, tetap saja ada kok tempat favorit saya. 



Terus terang saya sih paling favorit waktu ke Istana Kadriah. Soalnya dengan waktu yang sempit, saya bisa dapet obyek banyak. Ya istananya, ya Sungai Kapuasnya, ya Mesjid Jamik nya. Sayang nggak bisa masuk ke perkampungannya, soalnya udah diuber-uber untuk pulang.

Seneng juga masuk ke Istana Kadriah yang konon merupakan cikal bakalnya Kota Pontianak. Istana yang selesai dibangun pada tahun 1778 M ini, seperti juga kebanyakan bekas istana di tanah air, nasibnya menyedihkan. Meski masih megah berdiri tapi sudah banyak yang perlu diperbaiki sana dan sininya.

Berada di istana yang dibangun oleh al-Sayyid Syarif ‘Abdurrahman al-Kadrie’,  para tamu bisa melihat peninggalannya yang masih tersisa. Mulai dari foto leluhur, lemari antik, kursi raja, kaca hias, guci-guci juga seperangkat kamar permaisuri. Di kamar raja, saya melihat sebuah alquran tua. Usianya sudah 2 abad. Milik  Sultan Syarif Abdurachman yang ketika itu menjadi Sultan Kerajaan Pontianak. Ingin sekali banyak bertanya tentang alquran tua itu. Sayangnya, keturunan sultan yang waktu itu menjaga tak bisa menjawab beberapa pertanyaan saya.

Barulah saya keluar, melihat lihat teras. Di sini ada penjualan kain-kain yang dijual oleh keturunan kesultanan Pontianak. Ada beberapa yang cocok dan saya beli. Berada di teras itu seakan saya bisa memandang keluar dengan lega. Dulunya mungkin dari sana raja bisa melihat sungai kapuas. Meski saat ini sudah tak terlihat lagi lantaran banyak tertutup dengan rumah-rumah penduduk.

Selesai berbelanja, saya jalan ke Sungai Kapuas. Malam sebelumnya saya sempat naik kapal yang melayari sungai terpanjang di Indonesia, sambil makan malam. Sungai dengan panjang 1.178 Km itu masih menjadi alat transportasi dari desa desa yang dilalui sungai itu. Banyak kapal yang melewati sungai itu. Termasuk warga dari kampung seberang sungai yang menggunakan sungai itu untuk menyeberang. Hanya dengan uang Rp 1000,- mereka bisa sampai.

Mesjid Jami Pontianak
Di  tepi sungai itu pula saya melihat mesjid yang megah yaitu Mesjid Syarif Abdurrahman.  Mesjid yang juga dikenal dengan sebutan Mesjid Jami Pontianak ini  merupakan mesjid tertua dan mesjid terbesar di Pontianak. Mesjid ini memang dibangun oleh Sultan Syarif Abdurrahman dan hingga kini merupakan satu dari dua bangunan yang merupakan pertanda berdirinya kota Pontianak. Satunya lagi adalah bangunan Istana Kadriah.


Sayangnya, waktu sudah habis. Saya dan teman-teman harus segera ke bandara. Padahal saya masih ingin jalan-jalan di lokasi itu. Ingin naik perahu. Ingin wisata kuliner di situ. Masih ingin motret dan dipotret. Masih ingin menggali ini dan itunya 2 bangunan tua yang penuh sejarah yaitu Istana Kadriah dan Mesjid Jami Pontianak. Baru nyadar kalau istana dan mesjid ini ternyata tak terpisahkan dengan riwayat berdirinya Kota Pontianak. Semoga suatu saat saya bisa mampir lagi ke Pontianak, menengok 2 bangunan yang penuh cerita Istana Kadriah dan Mesjid Jami Pontianak.  (ira).

No comments:

Post a Comment

Terbayang-bayang Pulau Maratua

Terbayang - bayang Pulau Maratua

Sore hari di Pulau Maratua Dalam trip saya ke Kepulauam Derawan, maka saya singgah di beberapa pulaunya. Di antaranya  pulau Maratua,...

Main Ke Stone Garden